Bismillaahirrahmaanirrahiem. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam
atas Rasulullah saw. juga atas mereka yang berjalan bersamanya. Mungkin
ini adalah bahasan yang sering terulang. Namun, kita akan
terus membahasnya, apalagi di tengah serangan gencar yang dilakukan oleh
para musuh seputar konsep Islam tentang wanita dan keluarga. Hal ini
terjadi di antaranya karena ketidaktahuan mereka atas sikap Islam
terhadap masalah wanita.
Persamaan yang dimaksudkan oleh Islam ini meliputi segala aspek, termasuk masalah hak dan kewajiban. Hal ini sangat dipahami oleh para wanita Islam dan oleh karenanya mereka pegang ajaran Islam dengan sangat kuat. Khadijah, Umu Habibah, Ummu Salamah dan Nusaibah binti Ka’ab adalah sebagian contoh dari para wanita tersebut.
Hijab
“maka nikmat Rabb kamu manakah yang kamu dustakan?” (QS Ar-Rahman: 13
Wanita dalam Islam
Umar bin Khathab pernah berkata, “Pada masa jahiliyah, wanita itu tak
ada harganya bagi kami. Sampai akhirnya Islam datang dan menyatakan
bahwa wanita itu sederajat dengan laki-laki.”
Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri tiga kali
quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam
rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan
suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka
menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan
kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai
satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana. (Q.S. Al-Baqarah: 228)
Persamaan yang dimaksudkan oleh Islam ini meliputi segala aspek, termasuk masalah hak dan kewajiban. Hal ini sangat dipahami oleh para wanita Islam dan oleh karenanya mereka pegang ajaran Islam dengan sangat kuat. Khadijah, Umu Habibah, Ummu Salamah dan Nusaibah binti Ka’ab adalah sebagian contoh dari para wanita tersebut.
Adapun peran wanita dalam rumah tangga tak kalah besarnya. Rasulullah
mengatakan bahwa wanita adalah juga pemimpin di rumah dan ia akan
dimintakan pertanggungjawaban atas perannya tersebut. Dalam sejarah para
muslimah telah memainkan perannya dalam berbagai bidang; di medan
jihad, di masjid dan juga di rumah. Namun dengan tetap menjaga akhlaq
dan adab Islami. Ini dilakukan dengan tetap menjaga perannya yang utama
yaitu mendidik anak, menjaga keluarga yang dibangun atas mawaddah dan
rahmah, juga tetap menciptakan suasana tenang dan damai dalam rumah
tangga.
Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal
dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah dari kulit binatang ternak yang
kamu merasa ringan nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim
dan dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga
dan perhiasan sampai waktu. (Q.S. An-Nahl: 80)
Usaha Pembaratan
Manakala umat Islam tidak komitmen dengan agamanya, maka kondisi
wanita juga akan terpuruk sebagaimana terpuruknya kondisi para lelaki.
Jika kondisinya demikian, maka Barat yang ternyata lebih unggul dari
kita akan kembali bersemangat untuk kembali menjajah dan merampas
kekayaan kita. Perang pemikiran yang mereka lakukan adalah pembuka atas
perang militer yang akan mereka lakukan. Hal ini telah terbukti dan
berhasil mereka lakukan.
Bahkan ketika perang militer yang mereka lakukan menemukan kegagalan,
maka pengaruh pemikiran mereka tetap bercokol, terutama di otak-otak
pemikir dan cendekiawan kita. Salah seorang dari mereka pernah berkata,
“Semakin dalam aku mengenal Eropa, maka semakin bertambah rasa cintaku
padanya. Aku merasa bagian darinya. Dialah ideologiku yang aku
perjuangkan sepanjang hidupku. Aku tak percaya Timur dan aku lebih
percaya pada Barat.” (Salamah Musa ; Buku Kemarin dan Hari ini)
Ada lagi seorang dari mereka berkata, “Jalan menuju kebangkitan sudah
sangat jelas, yaitu dengan cara kita menempuh jalan yang telah ditempuh
bangsa Eropa. Lalu, agar kita dapat berubah seperti mereka, maka segala
apa yang ada pada mereka harus kita ambil. Pahit, manis, kebaikan,
keburukan dan termasuk hal-hal yang disukai juga yang dibenci (Toha
Husein, masa depan pengetahuan di Mesir)
Wanita Eropa
Gerakan pembebasan wanita -sesuai dengan ediologi Barat- merupakan
pintu masuk bagi pemikiran-pemikiran asing itu ke negeri kita.
Belakangan, gerakan ini terasa sangat gencar dilakukan. Terutama saat
isu globalisasi meruak. Juga pada saat Amerika dan Zionis berkuasa atas
dunia ini tanpa ada yang mampu menyainginya.
Mereka memaksakan pemikiran ini pada bangsa-bangsa muslim. Berbagai
cara mereka tempuh agar tujuan tercapai. Lembaga semisal PBB dipakai
sebagai alat guna terwujudnya segala target-target mereka.
Diselengarakanlah KTT-KTT yang mengangkat isu seputar masalah wanita.
Lalu keluarlah berbagai keputusan dan kesepakatan yang sesuai dengan
keinginan mereka. Pada akhirnya berbagai keputusan ini dipaksakan agar
diterima oleh semua anggota PBB dengan pengawasan ketat yang mereka
lakukan. Selanjutnya, hal-hal ini menjadi senjata-senjata untuk menekan
pemerintahan yang ada untuk mau merubah UU dan berbagai peraturan yang
sesuai dengan keputusan-keputusan KTT tadi.
Hancurnya Keluarga
Sebenarnya, di Eropa pemikiran dan ideologi ini melahirkan banyak
permasalahan. Sebagai contoh di Perancis tercatat 53 % anak-anak yang
lahir tak memiliki bapak yang jelas. Di banyak negara Eropa semakin
berkembang trend enggan mempunyai anak bahkan enggan untuk menikah.
Hubungan laki-laki dan wanita sekadar hubungan seks bebas tanpa ada
ikatan, tak ada aturan yang mengikat. Dan selanjutnya mereka menuntut
agar dilegalkannya aborsi sebagai dampak langsung dari merebaknya budaya
seks bebas.
Hal ini juga berdampak pada meningkatnya angka kriminalitas dengan
sangat tajam. Pada tahun 1998 tingkat kriminalitas di Amerika mencapai
angka yang sangat fantastis. Tindakan perkosaan terjadi setiap 6 menit,
penembakan terjadi setiap 41 detik, pembunuhan setiap 31 menit. Dana
yang dikeluarkan untuk menanggulangi tindakan kejahatan saat itu
mencapai 700 juta dolar per tahun (angka ini belum termasuk kejahatan
Narkoba). Angka ini sama dengan pemasukan tahunan (income) 120 negara
dunia ketiga.
Kejahatan atas wanita
Merebaknya kejahatan memberikan bahaya tersendiri buat para wanita di
Eropa. Hingga PBB pada 17 Desember 1999 mengeluarkan keputusan bahwa
tanggal 25 November merupakan hari anti kekerasan pada wanita.
Anehnya, para musuh Islam langsung saja menjadikan hal ini sebagai
celah untuk menyerang Islam. Mereka mengatakan bahwa dalam Islam, wanita
diperlakukan dengan amat kejam karena wanita boleh dipukul pada saat
melakukan pembangkangan pada suami setelah segala cara telah ditempuh.
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena
Allah telah melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain, dan
karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu
maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara
diri ketika suaminya tidak ada.
Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah
mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah
mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu
mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi
lagi Maha Besar. (Q.S. An Nisa: 34)
Kita akui bahwa banyak para suami yang salah dalam menerapkan ayat di
atas. Hal ini lahir karena lemahnya komitmen mereka pada Islam ditambah
dengan kebodohan dalam memahami konsep Islam. Diperparah lagi dengan
sikap wanita yang sudah sangat melampaui batas sehingga emosi sang suami
tak tertahankan lagi. Bahkan keduanya dalam posisi tertekan karena
sistem yang ada dan berlaku adalah sistem thagut sehingga kerusakan
terjadi di mana-mana. Sebenarnya dalam konsep Islam terdapat solusi bagi
permasalahan ini.
Ada banyak fakta dan data yang seharusnya diperhatikan oleh mereka
yang terbuai dengan Barat. Di Eropa dan Amerika pada setiap 15 detik
terjadi kekerasan atas wanita. Belum lagi jika ditambah dengan aksi
pemerkosaan setiap harinya. Sehingga Amerika tercatat sebagai negara
tertinggi dalam hal kekerasan terhadap wanita. Menurut catatan UNICEF,
30% kekerasan pada wanita terjadi di Amerika dan 20% di Inggris.
Belum lagi kejahatan perbudakan yang terjadi di Amerika, CNN pernah
menyiarkan laporan bahwa pada tahun 2002 jutaan anak-anak dan wanita
dijual belikan di Amerika setiap tahunnya. Lebih dari 120 ribu wanita
berasal dari Eropa Timur dan beberapa negara miskin lainnya dikirim ke
Eropa untuk dipekerjakan sebagai budak seks. Lalu lebih dari 15 ribu
wanita yang mayoritas berasal dari Meksiko dijual ke Amerika untuk
dipekerjakan di komplek-komplek pelacuran.
Bisnis haram ini bahkan merenggut kemerdekaan anak-anak di dunia,
hingga Sidang Umum PBB pada pertemuan yang ke 54 mengeluarkan keputusan
pada 25 Mei 2000 tentang hak anak. Sebuah keputusan yang mendesak agar
dilakukan pencegahan agar tak lagi terjadi jual beli anak apalagi
kemudian dipekerjakan sebagai budak seks seperti yang terdapat pada
jaringan internet.
Konsep perlindungan anak dalam Islam
Memperhatikan apa yang terjadi di Barat, seharusnya membuat kita
berfikir panjang jika ingin menempuh jalan yang telah ditempuh oleh
Barat.
Dan Allah hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang
mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya.
Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan
bersifat lemah. (Q.S. An-Nisa: 27-28)
Mari kita berpegang teguh pada petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Pandangan kita atas masalah ini adalah berlandaskan pada konsep agama
kita yang hanif.
Diharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, yang disembelih
atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang
ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu
menyembelihnya, dan yang disembelih untuk berhala. Dan mengundi nasib
dengan anak panah, adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir
telah putus asa untuk agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada
mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk
kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah
Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena
kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al Maidah: 3)
Kita tahu bahwa wanita mendapatkan berbagai tekanan termasuk
dirampasnya hak-hak mereka yang telah diberikan oleh Islam. Namun, jika
kita berbicara mengenai problem ini, tentunya tak dapat dipisahkan
dengan beberapa problematika lain yang ada.
Krisis pada hal ini tak dapat dilepaskan dari krisis besar yang
dihadapi umat Islam. Sesungguhnya pemikiran akan adanya konflik antara
laki-laki dan wanita adalah sebuah hal aneh dan tak akan ditemui dalam
konsep Islam. Ini adalah produk impor dari masyarakat barat yang memang
senang membuat konflik dan pertentangan dalam berbagai hal. Mereka
melakukan penentangan pada agama, alam, juga atas segala hal.
Kita bahkan yakin bahwa problem yang dihadapi oleh wanita muslimah
juga merupakan dampak dari apa yang terjadi di Barat. Baratlah penyebab
dari segala hal yang terjadi di Palestina, mereka yang mendukung Israel
dengan segala dukungan; materi dan persenjataan.
Dalam penjara Israel terdapat lebih dari delapan ribu tawanan. Mereka
meninggalkan para istri, ibu dan anak-anak perempuan, bahkan di antara
mereka terdapat sekitar 100 tawanan wanita. Mengapa Barat diam saja atas
semua ini.
Di Palestina terdapat lebih dari 250 wanita yang telah menemui
syahidnya, belum lagi para wanita yang menderita luka-luka pasca
intifadhah.
Bukankah mereka juga punya hak yang harus dibela. Mengapa media Barat
diam seribu bahasa atas hal ini, sementara mereka melakukan berbagai
usaha dan upaya pada saat satu atau dua orang wartawati mereka tertawan
di Irak atau di wilayah konflik lainnya.
Adapun tentang wanita di Irak, cukuplah bagi kita apa yang
disampaikan oleh organisasi dunia pada 22 Februari 2005 yang mengatakan
bahwa kondisi wanita Irak tak jauh berbeda dengan kondisi manakala
mereka berada di bawah pemerintahan Sadam Husein.
Hal ini menjelaskan bahwa kemerdekaan dan kebebasan wanita seperti
yang di gembar-gemborkan Amerika sama sekali tak menyentuh mereka.
Bahkan kondisi mereka di bawah penjajahan Amerika jauh lebih buruk lagi.
Mereka menerima perlakuan kasar, dianiaya, dilecehkan bahkan diperkosa.
Rasanya kita tak perlu lagi menceritakan apa yang dialami oleh para
muslimah di Bosnia. Bagaimana mereka diperkosa dan disiksa oleh tentara
Serbia Eropa di hadapan para tentara PBB, juga di hadapan dunia
internasional.
Namun, meski dalam kondisi demikian, wanita muslimah akan tetap
tegar. Melalui merekalah lahir para pejuang, para syuhada, juga para
mujahidin. Wallahu A’lam.
Di
dalam islam, wanita di perintahkan oleh Allah untuk menutup Aurat para
wanita. Sungguh sesuatu yg mahal harganya akan dijaga bahkan disimpan
dan di rawat dengan sangat hati- hati dan di hadiahkan pula tempat
teraman dan terbaik. Apakah pernah kita melihat seseorang membuang
intan begitu saja di jalanan?.
Jilbab adalah identitas kemuliaan seorang muslimah,
dan sekaligus benteng mereka dari berbagai gangguan orang- orang jahat
yang mempunyai niat jahat kepada mereka. Maka maha benarlah Allah
dalam firmannya,
"Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)
Dan
di dalam Islam, seorang wanita jika dihadapkan kepada suaminya,
memanglah ketaatan yang harus dilakukannya. Namun, seorang laki- laki
wajib pula taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari sang ayah?. Maka
perhatikan baik- baik wasiat rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam,
berikut ini...
"Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu,
beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus
berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab,
‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’
Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut
bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’
Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu
‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari Muslim)
Poligami
Diantara
banyak fitnah yang di hembuskan oleh para musuh- musuh islam, adalah
hal yang menyangkut poligami. Mereka mengatas namakan penderitaan
wanita yang di dramatisir sedemikian rupa, agar terlihat lebih
simpatik. Bahkan sebenarnya betapa kasihan mereka tentang hal ini.
Tingkah polah mereka semakin membuktikan kekurangan akal pada diri
mereka. Apakah sudah sampai pada mereka bahwa bila seorang lelaki
khawatir tidak dapat berlaku adil dalam berpoligami, maka dituntunkan
kepadanya untuk hanya menikahi satu wanita. Dan ini termasuk pemuliaan
pada wanita di mana pemenuhan haknya dan keadilan suami terhadapnya
diperhatikan oleh Islam, seperti Allah firmankan di dalam Al Quran,
“Namun bila kalian khawatir tidak dapat berbuat adil maka nikahilah satu wanita saja.” (QS. An Nisa: 3)
Begitu
di muliakannya wanita dalam islam, bahkan para suami, yaitu manusia
yang paling berhak atas istri- istri mereka, tetap diperintahkan oleh
Allah untuk tidak boleh berbuat sewenang- wenang kepada istri mereka.
“Dan bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) secara patut.” (An-Nisa`: 19)
Hal tersebut tetap berlaku walaupun sang suami dalam keadaan tidak menyukai istrinya. Seperti firman Allah berikut ini
“Kemudian
bila kalian tidak menyukai mereka maka bersabarlah karena mungkin
kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan
yang banyak.” (An-Nisa`: 19)
Dan Memanglah, kasih sayang
islam begitu sangat melingkupi kaum yang memang diciptakan Allah lebih
lemah dari pada laki- laki ini. Maka dari itu, ketika wanita menerima
warisan, memanglah wanita mendapat jatah kurang dari laki- laki. Bukan
karena tidak adanya keadilan Allah disana, tapi sungguh harta yang
jumlahnya kurang dari para laki- laki itu hanya menjadi milik
pribadinya dan para wanita tidak perlu menyerahkannya suaminya.
Sedangkan saat para lelaki atau suami menerima warisan, maka sudah
menjadi kewajiban laki- laki itu untuk menggunakan hartanya demi
kebutuhan seluruh keluarga, anak- anak dan istrinya.
Keutamaan Wanita dalam Islam
Dalam
lemahnya fisik dan kurangnya Akal karena lebih di dominasi perasaannya,
wanita memang haruslah tetap melalui sebuah fase perjuangan terbesar
yang membuatnya harus bersusah payah. Ya, selama mereka mengandung dan
melahirkan anak, adalah perjuangan yang begitu sangat menguras waktu
emosi, pikiran, tenaga dll. Tetapi Kasih sayang Allah memang tiada
batas. Ketika para wanita hamil, setiap saat mereka akan didoakan oleh
segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk Allah di mukabumi ini, dan
ketika kematian ternyata datang atas mereka saat melahirkan, maka
syahid akan Insyaallah akan di raihnya.
Dari Jâbir ibn ‘Atîk, Rasulullah saw. bersabda:
"Mati syahîd ada tujuh, selain mati terbunuh dalam perang
fîsabilillah, yaitu: (1) mati karena penyakit thâ‘ûn (semacam penyakit
kelenjar), (2) mati karena tenggelam ,(3) mati karena penyakit lambung
,(4) mati karena sakit perut, (5) mati karena terbakar, (6) mati karena
tertimpa reruntuhan, dan (7) perempuan yang mati karena hamil/melahirkan."
Pahala
mati syahîd layak diberikan kepada ibu hamil/melahirkan dan meninggal,
karena proses melahirkan adalah proses mengadu nyawa dan sama dengan
perang membela agama Allah. Selain itu, kaum wanita berperan besar
dalam pengembangbiakan keturunan. Dengan bersedianya seorang wanita
untuk hamil, berarti ia telah mengemban amanat dan mewujudkan proses
penyempurnaan sifat kefeminimannya.
Tidak itu saja,
keistimewaan seorang wanita adalah ketika mereka diperbolehkan untuk
memasuki pintu Syurga melalui mana pintu manapun yang disukainya. Dan
untuk semua itu, para wanita cukuplah melalui 4 syarat saja : Sholat 5
waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat suaminya dan menjaga
kehormatannya.
"Apabila seorang isteri telah
mendirikan sholat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadhan dan memelihara
kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya:
Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki."
(Riwayat Ahmad dan Thabrani)
Maka
sudah selayaknya, para pemilik mulut lancang yang tanpa ilmu
mendengungkan topeng “kemerdekaan” bagi kaum wanita itu, menginsyafkan
perbuatan mereka karena telah habis- habisan menyalakan propaganda untuk
membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, sehingga wanita
banyak yang terjerumus sebagai korban dari rencana mereka, dan kemudian
membenci aturan islam.
Mereka yang tiada segan menfitnah
agama mulia ini dengan dalih memerdekakan muslimah dari belenggu.
Entah belenggu semacam apa yang mereka maksud, namun satu yang pasti
bahwa kedengkian mereka atas islam, adalah sudah menjadi sebuah
kepastian.
Sungguh, bahkan cara Islam memuliakan wanita
itu lebih dari sekedar benar- benar tampak bagi logika waras manusia.
Lalu satu pertanyaan pun akhirnya muncul bagi para wanita,


0 komentar:
Post a Comment
terimakasih telah berkunjung ke blog saya